Senin, 04 Januari 2010

ANALISIS PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA FISIK TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Kasus pada Bengkel Langen Jaya Motor)

ABSTRAK

Bengkel Langen Jaya Motor yang terletak di Jalan Jendral Sudirman No. 627 Bandung ini berdiri sejak awal tahun 2003. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik bengkel bahwa dalam tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah konsumen yang datang. Akibat permasalahan yang muncul menyebabkan terjadinya kerugian bagi perusahaan, yaitu pendapatan perusahaan semakin menurun karena jumlah konsumen yang datang-pun semakin menurun. Berdasarkan hasil wawancara kepada pelanggan yang datang diperoleh keluhan-keluhan antara lain : pelayanan terhadap konsumen memerlukan waktu yang cukup lama, pelanggan mengeluhkan adanya ketidakramahan dari karyawan, tidak adanya kedisiplinan waktu dari karyawan dalam bekerja, kurangnya kualitas yang diberikan melalui kinerja karyawan sehingga tidak dapat memuaskan pelanggan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja kerja karyawan, mengetahui pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap kinerja kerja karyawan, dan mengetahui pengaruh kepemimpinan dan lingkungan kerja fisik secara simultan terhadap kinerja kerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian asosiatif/hubungan. Penelitian ini dilakukan terhadap semua karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor yang berjumlah 31 orang. Teknik sampling yang digunakan menggunakan Nonprobability Sampling, yaitu Sampling Jenuh, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan kuesioner. Kuesioner penelitian terdiri dari 3 bagian variabel yang dibutuhkan, yaitu variable kepemimpinan, lingkungan kerja fisik, dan kinerja karyawan. Penyebaran kuesioner Kepemimpinan dan Lingkungan Kerja Fisik ditujukan pada seluruh karyawan, sedangkan penyebaran kuesioner Kinerja Karyawan ditujukan pada Pimpinan bengkel Langen Jaya Motor Bandung serta seorang pelanggan.
Pengolahan data untuk kuesioner menggunakan analisa deskriptif. Variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ini berskala likert. Variabel bebas terdiri dari kepemimpinan (X1) dan lingkungan kerja fisik (X2) dan variabel terikat terdiri dari kinerja karyawan (Y).
Analisis dengan menggunakan metode Path Analysis. Salah satu hasil berdasarkan pengolahan data yang diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan linear antara kepemimpinan terhadap kinerja karyawan dan besarnya pengaruh tersebut sebesar 36,9% dianggap tidak signifikan.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Seiring dengan perkembangan industi bengkel di Indonesia, perbengkelan yang menyajikan pelayanan jasa yang cepat dan unik saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik itu perbengkelan mobil maupun motor. Industri bengkel timbul akibat keinginan masyarakat untuk memperbaiki dan mempercantik kendaraan yang dapat dilakukan dengan cepat, murah, praktis, dan berkualitas. Adanya ketertarikan konsumen yang sangat besar pada industri perbengkelan ini membuat banyak pengusaha berlomba-lomba untuk melakukan inovasi baru melalui pelayanan jasa yang ditawarkan. Salah satu tempat yang menyajikan pelayanan bengkel ini adalah bengkel Langen Jaya Motor yang menawarkan pelayanannya untuk setiap kendaraan baik mobil maupun motor. Salah satu keunikan dari bengkel ini adalah pelayanan cuci mobil/motor dengan menggunakan hidraulik dan busa salju.
Bengkel Langen Jaya Motor yang terletak di Jalan Jendral Sudirman No. 627 Bandung ini berdiri sejak awal tahun 2003, menyediakan berbagai macam pelayanan jasa seperti repair mobil, variasi mobil, cuci mobil, cuci motor, ketok magic, pengecatan mobil, pengelasan mobil. Berdasarkan hasil wawancara kepada pemilik bengkel, Langen Jaya Motor ini bahwa dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan jumlah konsumen yang datang, sehingga mengakibatkan penurunan penjualan perusahaan. Penurunan penjualan yang dirasakan oleh pimpinan setiap tahunnya menurun 20%. Selain itu selama satu tahun terakhir ini hari kerja menjadi permasalahan baru di bengkel Langen Jaya Motor, dimana hari kerja yang biasa dilakukan yaitu hari Senin-Minggu, tetapi karena jumlah karyawan yang bekerja pada hari minggu sangat sedikit maka khusus pada hari minggu bengkel tidak beroperasi (diliburkan). Sedangkan pada hari sabtu dan minggu biasanya terjadi peningkatan kedatangan konsumen dibandingkan dengan hari-hari lainnya, karena hari minggu bengkel tidak beroperasi (diliburkan) maka kedatangan konsumen di bengkel Langen Jaya Motor ini semakin menurun. Sedangakan berdasarkan hasil wawancara kepada pelanggan yang datang diperoleh keluhan-keluhan antara lain : pelayanan terhadap konsumen memerlukan waktu yang cukup lama, pelanggan mengeluhkan adanya ketidakramahan dari karyawan, tidak adanya kedisiplinan waktu dari karyawan dalam bekerja, kurangnya kualitas yang diberikan melalui kinerja karyawan sehingga tidak dapat memuaskan pelanggan.
Akibat permasalahan yang muncul diatas menyebabkan terjadinya kerugian bagi perusahaan, yaitu pendapatan perusahaan semakin menurun karena jumlah konsumen yang datang-pun semakin menurun. Oleh sebab itu pihak dari bengkel Langen Jaya Motor perlu mengetahui dan memperhatikan faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja karyawan dalam bekerja serta upaya-upaya yang perlu dilakukan sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pimpinan terutama perusahaan agar kinerja karyawan dapat lebih ditingkatkan. Berdasarkan hal diatas, maka penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Lingkungan Kerja Fisik terhadap Kinerja Karyawan (studi kasus pada Bengkel Langen Jaya Motor Bandung)”.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan pertimbangan kondisi yang dialami oleh bengkel Langen Jaya Motor, dimana konsumen dihadapkan pada begitu banyaknya pilihan mengenai pelayanan jasa dalam bidang perbengkelan, maka pihak bengel Langen Jaya Motor perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang ada agar dapat meningkatkan kinerja karyawan. Dari hasil observasi dan wawancara langsung kepada Bapak Ferry Gunawan selaku owner dan juga kepada seluruh karyawan bengkel Langen Jaya Motor, maka dapat diidentifikasikan hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketidakpuasan kinerja dari karyawan sehingga mengakibatkan penurunan jumlah konsumen yang datang dan kerugian bagi perusahaan, yaitu:
1. Masalah kepemimpinan yang dirasakan oleh karyawan dapat menurunkan kinerja.
2. Lingkungan kerja fisik yang dirasakan oleh karyawan tidak memadai, sehingga karyawan tidak dapat bekerja secara optimal.
3. Pembagian job description yang dirasakan oleh karyawan tidak sesuai dengan bidangnya masing-masing. Karyawan dalam bekerja dapat melakukan pekerjaan ganda (contohnya seorang montir dapat juga melakukan pekerjaan mencuci mobil).
4. Pembagian gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.
Oleh karena itu pihak bengkel Langen Jaya Motor perlu mempertimbangkan hal-hal diatas tersebut untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan sehingga dapat menarik kembali konsumen agar datang ke bengkel Langen Jaya Motor ini. Dengan demikian pihak perusahaan bengkel dapat memperkecil dan memperbaiki kerugian yang dialami.

1.3 Pembatasan Masalah dan Asumsi


Akibat keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka dalam penelitian ini penulis melakukan pembatasan masalah agar lebih jelas dan terarah. Pembatasan-pembatasan masalah yang dilakukan penulis antara lain :
1. Penyebaran kuesioner untuk seluruh karyawan yang seharusnya dilakukan di dua lokasi yaitu Bandung dan Purwakarta, berdasarkan hasil pertimbangan adanya rotasi yang dilakukan oleh pimpinan bengkel, maka penyebaran kuesioner untuk seluruh karyawan yang berjumlah 31 orang dilakukan di Bandung.
2. Untuk data-data lingkungan kerja fisik tidak berdasarkan hasil pengukuran skala intensitas melainkan dari hasil wawancara kepada seluruh karyawan yang sering mengeluhkan ketidak-nyamanan lingkungan kerja fisik yang dialami pada saat bekerja.
3. Untuk masalah gaji karyawan tidak diperhitungkan dalam penelitian ini.

Asumsi
Asumsi yang digunakan untuk penelitian sebagai berikut:
1. Perusahaan bengkel Langen Jaya Motor ini memiliki dana yang cukup dan mampu untuk berinvestasi memperbaiki kekurangan yang ada dalam pengembangan meningkatkan kinerja karyawan yang diusulkan.

1.4 Perumusan Masalah.


Adapun beberapa hal yang dirumuskan oleh penulis dalam penelitian yang dilakukan di perusahaan, yaitu:
1. Apakah kepemimpinan mempengaruhi kinerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor?
2. Apakah lingkungan kerja fisik mempengaruhi kinerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor?
3. Apakah kepemimpinan dan lingkungan kerja fisik secara bersama-sama mempengaruhi kinerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor?
4. Usulan apa yang harus dilakukan oleh bengkel Langen Jaya Motor untuk meningkatkan kinerja karyawan?

1.5 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui:
1. Pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor.
2. Pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap kinerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor.
3. Pengaruh kepemimpinan dan lingkungan kerja fisik secara bersama-sama terhadap kinerja karyawan pada Bengkel Langen Jaya Motor.
4. Memberikan usulan kepada pihak bengkel Langen Jaya Motor agar dapat meningkatkan kinerja karyawannya.


Analisis Pebandingan Teknologi Pembuatan Tempe


Pengolahan tempe di Indonesia sangat bervariasi dan belum ada standar yang dapat digunakan secara nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknologi tempe yang unggul berdasar parameter kualitas tempe dan produktivitas.

Metode peneltiian yang digunakan adalah metode deskriptif, sampel responden 30 pengrajin tempe di sentra industri tempe Sanan Malang Jawa Timur. Analisis kualitas mencakup: kadar air, tekstur, densitas dan kadar protein terlarut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata antar variasi teknologi pembuatan tempe terhadap kualitas produk. Teknologi pembuatan tempe yang memberikan hasil terbaik adalah T1.

Dari 30 perajin terdapat 6 variasi teknologi dengan 10 – 12 tahap proses. variasi terjadi pada periode perendaman dan perebusan, jumlah dan jenis inokulum, penggunaan pemberat saat fermentasi dan pencetakan.

Faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat produktivitas adalah bahan baku, tenaga kerja, pelatihan dan manajemen.

Tahapan proses pembuatan tempe T1 adalah: Perendaman 1 (4 jam), perebusan 1 (1jam), Penggilingan (pelepasan kulit), pemisahan kulit, perendaman 2 (10 jam), pencucian, perebusan 2 (4 jam), penirisan, pendinginan, penambahan inokulum, pencetakan (dengan pemberat dan fermentasi (36 jam).

Senin, 14 Desember 2009

PLN melakukan pemadaman listrik bergiliran di wilayah jawa bali

Pemadaman listrik bergiliran yang dilakukan PLN menurut pandangan etika bisnis, Pemadaman listrik bergilir untuk wilayah Jawa dan Bali pada 2009 kemungkinan masih berlanjut, karena ketersediaan energi listrik masih jauh dari kebutuhan. hal ini disebabkan juga oleh beberapa hal, contohnya yaitu terjadinya kebakaran gardu PLN di cawang yang menyebabkan kebutuhan listrik di daerah jakarta berkurang hingga harus dilakukan pemadaman bergilir di beberapa daerah. jika dilihat dari sudut pandang etika bisnis hal tersebut merugikan konsumen yang menggunakan listrik untuk keperluan usaha jadi tidak bisa melangsungkan kegiatan usahanya, bagi konsumen yang menggunakan listrik untuk kebutuhan sehari-hari dapat menghambat aktivitas mereka, namun bagi PLN sendiri hal tersebut dapat merugikan dari sisi pendapatan yang seharusnya diterima oleh PLN.

Kamis, 05 November 2009

MONEY GAME BERMUNCULAN

Jakarta : Departemen perdagangan mengungkapkan pertumbuhan perusahaan yang berpraktik money game. bahkan diantaranya memohon surat izin usaha penjualan langsung (SIUPL).
"Depdag tidak menolerir praktik money game yang berkedok usaha penjualan langsung atau pemasaran berjenjang (multi level marketing / MLM), ujar kasubdit kelembagaan dan usaha perdagangan Muhammad Tarigan kepada Bisnis Indonesia.
MLM adalah dan memberikan komisi atau bonus kepada anggota atau mitra usaha atau distributor dari hasil penjualan mereka dan jaringan dibawahnya.
sedangkan praktik money game biasanya kalaupun ada produk yang djual, tetapi sebatas kamuflase pemberian komisi kepada anggota bukan dari hasil penjualan barang, melainkan dari jumlah uang yang disetor.
misalnya, anggota yang menyetor uang Rp 2,5 juta kemudian diberikan produk seharga 200 ribu. jika anggota itu berhasil menjual satu produk, maka diberikan bonus 500 ribu.
Tarigan mengatakan Depdag akan berpatokan pada definisi MLM dalam mengeluarkan SIUPL.
Money game biasanya hanya menguntungkan pada yang bergabung pada awal pendirian usaha itu. jika pasar sudah jenuh dan tidak ada anggota baru yang bisa direkrut, maka anggota terakhir mengalami kerugian.
Akibatnya perusahaan tidak mampu lagi membayar sejumlah komisi bagi anggota yang telah terekrut.
Ketua Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) Helmi Atamimi mengatakan organisasinya berupaya melaporkan kepada Depdag jika ada usaha MLM yang salah digunakan sebagai bisnis money game.

Diskusi :

1. saya tidak setuju dengan bisnis money game yang berbentuk MLM karena kalaupun ada produk yang dijual, hanya sebatas kamuflase. pemberian komisi kepada anggota bukan dari hasil penjualan barang, melainkan dari jumlah uang yang disetor.

2. depdag sebagai pihak yang terkait dalam masalah ini sudah melakukan hal yang harus dilakukan yaitu tidak mentolerir usaha money game yang berkedok usaha MLM.

3. bisnis money game bisa tumbuh subur di indonesia karena bisnis ini banyak yang berkedok MLM dan banyak orang yang mudah terhasut akan penghasilan yang akan didapatnya.

4. bisnis money game ini harus dilarang, karena bisnis ini hanya menguntungkan apabila ada anggota baru yang direkrut, jika sudah tidak ada anggota yang bisa direkrut maka perusahaan tidak mampu membayar komisi bagi anggota yang telah direkrut.

5. mengenai pandangan terhadap etika bisnis, kalau tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain menurut saya sah-sah saja.

jasa konsultasi skripsi : disyukuri atau dikutuk?

Karena sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan. menteri pendidikan nasonal akhirnya memutuskan untuk mengumumkan puluhan institusi pendidikan atau program (PTS) yang dianggap ilegal, hal ini menyusul diusutnya "lembaga pendidikan" memberi gelar master dan doktor yang marak di negeri ini. masalah ilegal atau tidak juga diperdebatkan dalam hal pemberi jasa konsltasi skripisi, tesis, disertasi walaupun belum mencapai taraf yang merisaukan masyarakat. semula jasa semacam itu diberikan secara perseorangan dan diam-diam antar teman, layanan meningkat menjadi jasa pemrosesan data statistik dengan program komputer. kemudian meningkat menjadi jasa menginterpretasi dan menuliskan hasil. lama kelamaan, jasa menungkat sampai memilihkan judul, menyediakan jasa, bahkan sampai membuatkan secara penuh suatu skripsi. usaha ini tentunya mempunyai modal dasar yaitu kumpulan skripsi yang mencakupi berbagai bidang studi dan topik, jurnal dan basis data. mahasiswa tidak perlu mencari data yang diperlukan tinggal membeli data siap olah. jadi keterampilan mengumpulkan data telah diambil oleh jasa ini. di internet pun tersedia sarana membeli skripsi atau tesis, peminat tinggal mengunjungi www.skripsiekonomi.com dan dapat membeli skripsi dengan judul apapun dengan harga sekitar 750 ribu per skripsi. ketika ditanya apakah jasa semacam itu tidak menimbulkan hal yang kurang baik dan etis dalam konteks pendidikan nasional dan tujuan penulisan skripsi, seorang pemberi jasa yang cukup profesional mengatakan : "nyatanya banyak yang datang ke saya dan tidak ada peraturan yang melarang. juga , nyatanya banyak yang menyelenggarakan bisnis seperti ini. ini berarti ada permintaan. ada permintaan ada penawaran. ini hukum ekonomi, jangan berpikir masalah etika atau hukum. etika tidak ada tempatnya dalam dunia bisnis. what is legal is ethical. semuanya sah-sah saja."
pihak direktorat jendral pendidikan tinggi ata yang berwewenang sekalipun masih bergeming mengenai hal ini. mungkin fenomena ini masih dianggap wajar sehingga mereka tidak perlu gegabah menangani masalah ini. mereka tampaknya bersikap "wait and see".

Diskusi :

a. dalam kasus di atas, pihak-pihak yang berkepentingan adalah menteri pendidikan nasional, institusi pendidikan atau pragram (PTS), mahasiswa, dosen, dan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

b. setuju, karena tiap pihak dalam kasus diatas menguraikan alasan mereka mengapa melakukan jasa konsultasi skripsi. dapat dikatakan etis atau tidak, menurut saya tidak etis karena semua pihak dalam kasus di atas mementingkan kepentingan masing-masing.

c. masalah etis dalam jasa konsultasi skripsi di atas adalah dapat membantu mahasiswa dalam melakukan konsultasi skripsinya jika mereka kurang mendapat bimbingan dari dosen pembimbing mereka.

d. mengenai jasa konsultasi diarang atau tidak, sebenarnya tidak perlu dilarang dan juga tergantung kepada orang yang membutuhkan jasa konsultasi tersebut atau tidak.

e. mengenai pandangan terhadap etika bisnis, kalau tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain menurut saya sah-sah saja.